Kalau dengar kota dibangun di atas air, bayangan kita mungkin langsung ke rumah-rumah yang ngapung seperti kapal. Tapi di Venesia (Venice), Italia, ceritanya beda. Kota ini memang berdiri di kawasan laguna dengan tanah yang lembek dan berair, tetapi rumah, gereja, sampai bangunan megahnya tetap berdiri kokoh di atas fondasi. Jadi, bukan rumahnya yang mengapung, melainkan teknik konstruksinya yang bikin kita geleng-geleng kepala.
Kenapa Venesia Bisa Berdiri di Atas Air?
1. Hutan kayu tersembunyi di bawah kota
Di bawah bangunan Venesia terdapat tiang-tiang kayu yang ditancapkan rapat ke dalam lapisan lumpur dan sedimen. Tiang ini berfungsi sebagai fondasi untuk meneruskan dan menyebarkan beban bangunan ke lapisan tanah yang lebih kuat.
2. Kayunya justru awet karena minim oksigen
Kedengarannya aneh, tapi kayu yang terus terendam tidak otomatis cepat busuk. Lingkungan bawah tanah Venesia sangat miskin oksigen, sehingga aktivitas organisme yang biasanya mempercepat pembusukan kayu menjadi jauh lebih lambat. Namun, penelitian modern menunjukkan bahwa kayu tersebut tetap bisa mengalami kerusakan secara perlahan, jadi bukan berarti fondasinya benar-benar kebal terhadap usia.
3. Tiang kayu bukan langsung jadi lantai rumah
Setelah tiang ditancapkan, bagian atasnya diberi susunan kayu dan material batu untuk menciptakan permukaan fondasi yang mampu mendistribusikan berat bangunan. Di atas struktur inilah dinding dan bangunan kemudian didirikan. Jadi, ada semacam “lantai” raksasa tersembunyi di bawah kota.
4. Tanahnya memang problematik sejak awal
Dasar laguna Venesia terdiri dari campuran lumpur, pasir, tanah liat, dan sedimen dengan kemampuan menahan beban yang rendah. Karena itulah teknik tiang pancang menjadi solusi penting agar bangunan tidak sekadar mengandalkan tanah permukaan yang gampang bergerak atau mengalami penurunan.
5. Kota ini sebenarnya tidak benar-benar “mengapung”
Istilah floating city lebih cocok sebagai gambaran populer. Secara teknik, bangunan Venesia tidak mengambang bebas di atas air. Bebannya ditopang oleh sistem fondasi yang tertanam di bawah permukaan laguna dan bekerja bersama lapisan tanah yang lebih padat.
Yang bikin makin mind-blowing, sistem tersebut sudah digunakan berabad-abad lalu ketika teknologi konstruksi modern belum ada. Tiang kayu dari berbagai jenis seperti alder, larch, oak, dan spesies lainnya digunakan dalam fondasi bangunan bersejarah. Penelitian terhadap fondasi Venesia menunjukkan bahwa tiang-tiang tersebut memang dapat bertahan sangat lama dalam kondisi terendam, meskipun sebagian tetap mengalami proses degradasi. Jadi, saat wisatawan jalan kaki melewati gang atau naik gondola di antara bangunan-bangunan tua, mereka sebenarnya sedang berada di atas sistem konstruksi yang tersembunyi di bawah air. Bahkan konsep serupa juga ditemukan di Amsterdam, yang banyak bangunannya berdiri di atas tiang kayu karena kondisi tanahnya yang lunak. Pemerintah Amsterdam mencatat bahwa bangunan-bangunan kota memang secara historis menggunakan tiang untuk mencapai lapisan tanah yang lebih kuat.
Singkatnya, Venesia bukan kota dengan rumah-rumah yang santai mengapung di atas air. Kota ini adalah contoh bagaimana manusia bisa “berdamai” dengan kondisi alam yang ekstrem lewat rekayasa fondasi yang cerdas. Dari luar kelihatan seperti kota ajaib, tetapi di bawahnya ada kerja teknik yang jauh lebih gila lagi.