Kalau biasanya hidup di kota identik dengan motor, mobil, lampu merah, dan suara klakson, Giethoorn di Belanda justru punya aturan main yang beda. Desa kecil di Provinsi Overijssel ini terkenal karena kawasan pusatnya hampir tidak memiliki jalan untuk mobil. Sebagai gantinya, kanal menjadi “jalan raya” dan perahu menjadi salah satu alat transportasi utama. Makanya, Giethoorn sering dijuluki “Venice of the North” atau Venesia-nya Belanda.
Kenapa kehidupan di Giethoorn bisa lebih cocok pakai perahu?
- Kanalnya bukan sekadar dekorasi. Banyak kanal di Giethoorn terbentuk dari aktivitas penggalian gambut yang dilakukan berabad-abad lalu. Bekas area penggalian tersebut kemudian terisi air dan membentuk jaringan perairan yang akhirnya menjadi bagian penting dari tata ruang desa.
- Rumah-rumahnya berada di pulau kecil. Kawasan bersejarah Giethoorn terdiri dari rumah dan lahan yang dipisahkan oleh kanal. Karena itu, membuat jalan raya seperti di kota biasa bukan solusi yang paling praktis. Warga justru bisa berpindah melalui air atau berjalan melewati jembatan-jembatan kecil.
- Perahu bisa menjadi transportasi yang lebih masuk akal. Kalau jalur darat terputus oleh kanal, kendaraan harus memutar jauh atau membutuhkan jembatan besar. Dengan perahu, rute melalui air justru bisa lebih langsung. Secara sederhana, bentuk geografis menentukan jenis transportasi yang paling efisien.
- Suasana tenang ikut terjaga. Banyak perahu yang digunakan di Giethoorn merupakan jenis perahu listrik berisik rendah yang dikenal sebagai whisper boat. Minimnya suara mesin kendaraan darat membuat kawasan ini terasa jauh lebih tenang dibanding lingkungan perkotaan dengan lalu lintas padat.
- Mobil sebenarnya bukan benar-benar “hilang”. Ini bagian yang sering disalahpahami. Giethoorn bukan wilayah yang sama sekali tidak memiliki mobil atau jalan. Kawasan pusatnya yang bersejarah memang sebagian besar bebas mobil, sedangkan jalan dan area parkir tetap tersedia di bagian luar desa.
Yang menarik, sistem ini sebenarnya menunjukkan bagaimana lingkungan bisa membentuk kebiasaan manusia. Di kota modern, jalan dibuat terlebih dahulu lalu kendaraan mengikuti desain tersebut. Di Giethoorn, kondisinya hampir kebalikannya: lanskap berupa rawa, gambut, pulau kecil, kanal, dan jembatan membuat transportasi air menjadi pilihan yang sangat natural. Kawasan tersebut juga berada dekat De Weerribben-Wieden National Park, wilayah lahan basah yang kaya vegetasi dan satwa. Jadi, penggunaan perahu dengan suara rendah bukan cuma soal gaya hidup unik, tetapi juga cocok dengan karakter lingkungan sekitarnya.
Jadi, Giethoorn membuktikan bahwa “kota modern” tidak selalu harus penuh aspal dan kendaraan. Kadang, kalau alamnya sudah menyediakan jalan berupa air, perahu justru menjadi kendaraan yang paling masuk akal. Di tempat ini, perjalanan ke rumah tetangga bisa terasa seperti sedang liburan—cukup naik perahu, melewati kanal, lalu menyusuri jembatan kayu.